Menu MBG di Kecamatan Saketi Tuai Sorotan, Dinilai Kurang Menggugah Selera

Menu MBG di Kecamatan Saketi Tuai Sorotan, Dinilai Kurang Menggugah Selera

Banselpos.com, Pandeglang, Banten | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan ke sejumlah sekolah di wilayah Kecamatan Saketi kembali menuai sorotan. 

Dalam foto yang beredar, terlihat satu set menu MBG yang disajikan menggunakan wadah stainless steel, terdiri dari nasi putih, potongan tahu/tempe, lauk goreng, irisan sayuran, serta buah. Namun, secara visual, porsi dan komposisi menu tersebut dinilai kurang menggugah selera, terutama jika dikaitkan dengan tujuan utama program MBG sebagai pemenuhan gizi seimbang bagi peserta didik.

Menariknya, pada unggahan tersebut turut disertakan lembar Checklist Uji Organoleptik, yang seharusnya berfungsi sebagai instrumen penilaian mutu makanan dari aspek penampilan, rasa, warna, aroma, dan tekstur. Dalam keterangan Poto yang beredar, pihak pengunggah menuliskan narasi bernada satir yang menyebutkan seluruh aspek dinilai “sangat baik”, namun diakhiri dengan kata “BOHONG”, disertai emoji senyum. Unggahan tersebut diduga merupakan bentuk kekecewaan sekaligus sindiran terhadap ketidaksesuaian antara penilaian administratif dengan kondisi riil makanan yang diterima.

“Kalau dilihat dari tampilannya, ini jauh dari kata menggairahkan selera makan anak-anak. Padahal ini program nasional dengan anggaran yang tidak sedikit,” ujar salah satu sumber di lingkungan pendidikan Saketi yang enggan disebutkan namanya.

Berdasarkan penelusuran sementara, menu MBG tersebut diduga dikirim oleh dapur mitra SPPG Sindanghayu 3, yang menjadi salah satu penyedia layanan MBG di wilayah tersebut. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak SPPG maupun pengelola dapur terkait kualitas menu dan proses evaluasi internal sebelum makanan didistribusikan ke sekolah.

Sejumlah pihak menilai, kejadian ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan evaluasi kualitas MBG di tingkat pelaksana. Program yang sejatinya bertujuan meningkatkan asupan gizi dan semangat belajar siswa, justru berpotensi menurunkan minat makan apabila penyajiannya tidak diperhatikan secara serius.

Masyarakat dan insan pendidikan di Kecamatan Saketi pun mendorong agar Badan Gizi Nasional (BGN) serta pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh, khususnya terhadap dapur mitra yang berulang kali menuai keluhan. Evaluasi dinilai penting agar pelaksanaan MBG tidak hanya sebatas pemenuhan administrasi dan laporan, tetapi benar-benar menjamin mutu, kelayakan, dan keberterimaan makanan bagi siswa.

Hingga saat ini, publik masih menanti klarifikasi resmi dari pihak dapur mitra SPPG Sindanghayu 3 maupun instansi terkait untuk memastikan apakah menu tersebut telah sesuai dengan standar gizi, porsi, dan kualitas yang ditetapkan dalam pedoman MBG. (Ira/Red)