Di Balik Megahnya Gebrag Ngadu Bedug 2026: “Hidup dari Swadaya Seniman Saat Pemerintah Berjarak!”

"Di balik megahnya Gebrag Ngdu Bedug 2026 di Alun-Alun Pandeglang, ada cerita perjuangan swadaya para seniman di tengah minimnya dukungan nyata pemerintah."

Di Balik Megahnya Gebrag Ngadu Bedug 2026: “Hidup dari Swadaya Seniman Saat Pemerintah Berjarak!”
Semarak Budaya Gebrag Ngadu Bedug 2026 di Alun-alun Pandeglang - (Foto: Banselpos.com)

Banselpos.com, PANDEGLANG – Gema takir bedug kembali bertalu lantang di tanah Pandeglang, menghidupkan memori usang yang sempat terkubur oleh zaman.

Di tengah keterbatasan dan minimnya dukungan dari pemerintah daerah terhadap pelestarian tradisi, para seniman yang tergabung dalam Asosiasi Seniman Bedug memilih tidak berpangku tangan. Mereka bergerak mandiri menggelar Semarak Budaya Gebrag Ngadu Bedug 2026 yang berlangsung teduh penuh khidmat hingga 31 Mei 2026.

Tahun ini, festival yang mengikat kebersamaan 20 kampung tersebut mengangkat tema yang sarat akan filosofi kehidupan, yakni "Saung Kebo". Bukan sekedar bangunan pemanis, tema ini menjadi ruang refleksi bagi masyarakat Pandeglang akan pentingnya kedaulatan pangan dan asa swasembada, yang divisualisasikan melalui pemanfaatan limbah jerami sawah secara kreatif.

Di balik megahnya panggung budaya kali ini, antusiasme masyarakat yang sangat tinggi terlihat jelas dari lautan manusia yang memadati kawasan Alun-alun Pandeglang. Ruang publik ini penuh sesak oleh lintas generasi, mulai dari kalangan orang tua, dewasa, hingga generasi Z dan kaum milenial.

Bagi kalangan orang tua, kehadiran mereka di Alun-alun menjadi momen berharga untuk bernostalgia dan mengobati kerinduan pada tradisi budaya lama yang pernah jaya. Sementara itu, bagi kaum generasi Z dan milenial, festival ini menjelma menjadi ruang kreatif yang estetik. Mereka tampak asyik berswafoto (selfie) di depan saung jerami lalu mengunggahnya ke akun media sosial masing-masing, membawa tradisi ini viral di dunia digital.

Ketua Panitia,Endang Suhedar, mengisahkan bagaimana tradisi yang menjadi identitas daerah ini sempat mati suri selama puluhan tahun karena belum menjadi prioritas dalam agenda pembinaan dinas terkait."Adu bedug di alun-alun ini sempat punah dan tidak terdengar selama 34 tahun sejak era 1980-an," kenang Endang dengan nada lirih kepada Banselpos.com disela acara pembukaan Gebrag Ngadu Bedug 2026 di Alun-alun Pandeglang, Jumat malam (29/5/2026).

"Kami dari asosiasi seniman bedug selaku pewaris berkumpul untuk merevitalisasi ini kembali pada tahun 2022 dan 2023 lalu. Jujur saja, gerakan ini tumbuh dari bawah, dari keringat para pewaris budaya, karena dukungan pembinaan jangka panjang dari pihak regulator masih sangat minim." imbuhnya.

Kemandirian itu dibuktikan secara nyata. Pihak asosiasi secara swadaya menyalurkan dana pembinaan sebesar Rp60 juta untuk menyokong pendirian saung-saung beratapkan jerami di tiap kampung peserta. Langkah ini diambil agar arsitektur tradisional masa lalu tidak asing di mata generasi hari ini.

Kemegahan acara ini sejatinya menyimpan cerita perjuangan finansial yang tidak mudah. Meski kegiatan ini berhasil menggaet beberapa sponsorship, nilai dukungan finansial dari mitra swasta di Pandeglang ini tergolong sangat kecil jika dibandingkan dengan sokongan sponsor di kota-kota besar lainnya.Kondisi tersebut diperberat dengan pola bantuan dari birokrasi. Alih-alih memberikan bantuan berupa dana segar yang bisa dikelola langsung oleh panitia untuk kebutuhan mendasar, pihak dinas terkait biasanya hanya memberikan fasilitas alakadarnya. Pemerintah daerah cenderung mengendalikan anggaran tersebut secara penuh dengan dalih mereka yang mengerjakan teknis fasilitasnya, sehingga ruang gerak finansial panitia dan seniman di lapangan menjadi sangat terbatas.

Meski bergerak dengan keterbatasan fasilitas dinas dan kepungan kendali anggaran struktural, semangat kompetisi warga tidak luntur. Panitia menyiapkan total hadiah sebesar Rp40 juta yang tersebar dalam lima kategori lomba, diantaranya,: 1. Kirab Budaya, kategori lomba yang menampilkan parade wajah tradisi dan karakteristik khas tiap kampung. 2. Lomba Hias Saung, kategori yang menilai konstruksi bangunan arsitektur lokal Saung Kebo. 3. kategori Lomba Ngagebrag Beduk kategori yang menampilkan ketahanan fisik dan harmoni ketukan para penabuh. 4. Lomba Cipta Pola Tabuh Beduk, kategori yang menampilkan ruang inovasi aransemen ritme bedug yang baru. dan terakhir, 5. Lomba Kampung Terfavorit, kategori yang menampilkan ruang partisipasi publik untuk memilih langsung melalui media digital.

Ada sentuhan modern dalam balutan tradisi kali ini. Kategori kampung terfavorit ditentukan secara transparan melalui kolaborasi bersama platform traktir.com.

Masyarakat dapat ikut andil mendukung kelestarian kampungnya dengan memberikan vote senilai Rp2.000 per suara melalui website tersebut. Panitia memastikan seluruh hasil voting digital ini akan didistribusikan secara rasional untuk membantu perputaran ekonomi kreatif di akar rumput.

"Setiap tahun kami konsisten merekonstruksi bangunan masa lalu, seperti Saung Ranggon atau Saung Tagog. Kali ini Saung Kebo menjadi simbol pendekatan pangan karena Pandeglang rindu swasembada," jelas Endang.

"Lewat perlombaan dan voting ini, kami ingin masyarakat kembali merawat rasa memiliki terhadap budayanya sendiri." Pungkasnya.

Gebrag Ngadu Bedug tahun ini menjadi potret sekaligus pengingat, bahwa di balik megahnya kemeriahan acara, denyut nadi kebudayaan Pandeglang justru bertahan karena kegigihan komunitasnya sendiri. Saat dukungan formal dari pemangku kebijakan masih terasa berjarak dan kaku, tradisi ini membuktikan diri mampu menghidupi dirinya dan tetap dicintai oleh seluruh generasi di tangan para pewaris sejati.***(Red).