Asa yang Tergerus di Balik Gerbang Sekolah: Nestapa Jumri Menghadapi Kebijakan Makan Bergizi Gratis
Oleh : Redaksi Banselpos.com
PANDEGLANG - Matahari tepat berada di atas kepala saat bel istirahat SD Negeri Pandeglang 13 berbunyi nyaring. Namun, bagi Jumri (35), bunyi itu tak lagi membawa keriuhan yang sama seperti biasanya. Di balik gerobak sederhana berwarna merah-hijau yang terparkir di depan gerbang sekolah, ia hanya bisa menatap nanar ke arah kerumunan siswa yang kini tak lagi berlarian menuju dagangannya.
Jumri adalah satu dari sekian banyak pejuang nafkah kecil yang kini sedang beradu nasib dengan perubahan zaman dan kebijakan. Ia menggantungkan hidupnya pada butiran aci yang digoreng—Cimol dan Cilor. Dulu, kepulan asap dari wajannya adalah simbol nafas kehidupan bagi keluarganya. Kini, asap itu seolah membawa aroma kegelisahan yang menyesakkan dada.
Sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) digulirkan secara masif, pola konsumsi para siswa berubah total. Perut anak-anak yang kini terisi penuh oleh menu sehat dari pemerintah, secara otomatis menggeser keberadaan jajanan kaki lima yang menjadi sumber penghidupan Jumri selama bertahun-tahun.
“Semenjak ada program makan gratis itu, dagangan jadi sepi sekali. Omset turun drastis,” keluh Jumri dengan suara parau.

Statistik pendapatan Jumri mencerminkan realitas yang pahit. Dalam catatan kesehariannya sebelum era MBG, ia mampu mengolah 4 hingga 5 kilogram adonan per hari dengan pundi-pundi rupiah mencapai Rp300.000 hingga Rp400.000. Sebuah angka yang cukup untuk membuat dapur di rumahnya tetap mengepul. Namun kini, realita memaksanya untuk memangkas produksi hingga tersisa 1-2 kilogram saja. Pendapatannya terjun bebas ke angka Rp100.000, itu pun jika keberuntungan sedang berpihak padanya.
Kisah Jumri bukan sekadar soal angka yang hilang. Ini adalah soal tanggung jawab moral seorang anak kepada ibunya yang sudah lanjut usia. Sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga, setiap rupiah yang hilang berarti satu beban tambahan bagi kesejahteraan sang ibu di rumah.
Ironi kian terasa ketika harga bahan pokok di pasar terus merangkak naik. Di tengah omset yang merosot, ia harus memutar otak menghadapi harga minyak dan tepung yang melambung. "Jangankan mau cari untung besar, buat modal belanja bahan besok saja terkadang masih kurang," ungkapnya lirih sembari mengaduk adonan yang masih banyak tersisa.
Dalam kebimbangannya, Jumri mengaku sempat terbersit keinginan untuk memohon kepada pihak sekolah. Ia ingin ada sedikit celah agar program pemerintah tersebut tidak sepenuhnya menutup pintu rezeki bagi pedagang seperti dirinya. Namun, kesadaran akan posisinya sebagai warga kecil membuatnya urung melangkah. Ia tahu, ia tak punya kuasa untuk membendung arus kebijakan nasional yang sudah terencana matang.
Meski demikian, terselip sebuah harapan besar di balik wajah lelahnya. Ia tidak membenci kesehatan anak-anak sekolah, ia hanya meminta agar keberadaannya tidak terlupakan.
"Saya cuma bisa berharap pemerintah juga memikirkan nasib kami. Jangan sampai niat baik memberi makan gratis untuk anak-anak, justru memutus rezeki pedagang kecil yang punya tanggungan orang tua di rumah," tutup Jumri menutup harinya.
Saat matahari mulai condong ke barat, Jumri bersiap memacu motor bututnya pulang. Ia membawa sisa dagangan yang lebih banyak dari biasanya, namun tetap dengan harapan kecil bahwa esok, gerbang sekolah itu akan memberinya sedikit lebih banyak keberuntungan.
















