21 Hektare Sawah di Pandeglang Terancam Gagal Panen Atau Puso Akibat Terendam Banjir
Banselpos.com, Pandeglang, Banten | Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, dalam beberapa hari terakhir tidak hanya menyebabkan banjir di permukiman warga, tetapi juga berdampak terhadap sektor pertanian. Ribuan hektare lahan sawah dilaporkan terendam banjir, bahkan ratusan hektare berpontensi mengalami gagal panen atau puso.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pandeglang, Uun Junandar menyebutkan, hasil pendataan sementara menunjukkan sekitar 2.165 hektare sawah terdampak genangan banjir akibat tingginya curah hujan.
Dari total lahan terdampak tersebut, sekitar 21 hektare sawah dipastikan mengalami puso atau gagal panen. Namun, angka tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah seiring proses pendataan yang masih berlangsung.

"Hitungan sementara per 12 Januari kemarin, ada sekitar 21 hektare yang benar-benar gagal panen. Ini masih bisa berubah karena pendataan masih berjalan," ujar Uun saat meninjau lokasi banjir bersama Bupati Pandeglang, Rabu (14/1/2026).
Uun menjelaskan, lahan sawah yang terdampak banjir tersebar di 13 kecamatan di Kabupaten Pandeglang. Sementara itu, lahan yang mengalami puso tidak terpusat di satu wilayah, melainkan berada di beberapa kecamatan.
"Untuk sawah yang puso itu tidak hanya di satu kecamatan, tetapi tersebar di beberapa wilayah. Dari 13 kecamatan terdampak, ada beberapa titik yang mengalami puso," jelasnya.
Ia menambahkan, usia tanaman padi yang terdampak banjir bervariasi, mulai dari 30 hingga 100 hari, bahkan sebagian di antaranya sudah mendekati masa panen. Kondisi ini membuat potensi kerugian petani semakin besar.
"Usia tanaman ada yang 30 sampai 75 hari, ada juga yang 75 sampai 100 hari. Bahkan ada yang sudah siap panen, tetapi terendam banjir," ungkap Uun.
Parahnya Banjir di Pandeglang 12 Kecamatan Terdampak & Ketinggian Capai Atap Rumah
Sebagai langkah penanganan, DPKP Pandeglang telah mengajukan bantuan benih padi ke Pemerintah Provinsi Banten serta mengusulkan bantuan beras bagi petani terdampak banjir. Namun, untuk lahan yang mengalami puso, hingga saat ini belum tersedia skema bantuan langsung dari pemerintah daerah maupun pusat.
"Untuk bantuan puso memang belum ada, baik dari pusat, provinsi, maupun kabupaten. Karena itu kami berharap petani yang terdampak sudah terdaftar dalam asuransi usaha tani padi (AUTP) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian," katanya.
Melalui program asuransi tersebut, petani diharapkan dapat memperoleh ganti rugi atas gagal panen akibat bencana. Tutupnya. (Ira/Red)
















