Menu MBG SPPG Langensari Saketi Diduga Tidak Menenuhi Stadar, DPC AMIRA Minta BGN, Kareg dan Satgas MBG Berikan Sangsi Tegas

Menu MBG SPPG Langensari Saketi Diduga Tidak Menenuhi Stadar, DPC AMIRA Minta BGN, Kareg dan Satgas MBG Berikan Sangsi Tegas

Banselpos.com, Pandeglang, Banten | Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan di Daerah Desa Langensari Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, Banten, menuai kritik dari sejumlah warga dan aktivis masyarakat.

Pasalnya, menu makanan yang diberikan kepada siswa dinilai tidak memenuhi standar gizi seimbang sebagaimana pedoman yang ditetapkan pemerintah.

Dalam satu porsi makanan yang dibagikan kepada peserta didik, hanya terdapat nasi putih, Tempe, Telur Semur, Tumis Buncis, dan satu buah pisang yang dinilai tidak mencukupi kebutuhan gizi harian anak. Kondisi ini memicu kekecewaan di kalangan orang tua penerima manfaat program.

Sejumlah orang tua menilai penyedia jasa penyalur makanan, yakni SPPG Langensari yang dikelola Yayasan Inspirasi Semesta Nagari, diduga bekerja secara asal-asalan tanpa memperhatikan unsur gizi dan kualitas bahan pangan. Bahkan, beras yang digunakan diduga bukan berasal dari jenis premium sebagaimana standar program.

Aktivis DPC Amira Pandeglang, mengkritik keras penyedia jasa tersebut.

Saya rasa menu MBG hari ini yang disalurkan oleh dapur SPPG Langensari kurang layak dan tidak pantas diberikan kepada penerima manfaat. Menu itu diduga juga tidak sesuai dengan petunjuk teknis standar gizi yang menggunakan satuan kilokalori (KKAL) dan gram," ujarnya, Rabu, 29 Juli 2026.

Ia berharap pihak berwenang segera menindaklanjuti temuan tersebut dengan memberikan teguran atau sanksi kepada pihak dapur penyedia agar tidak mengulangi kesalahan serupa.

"Banyak wali murid yang mengeluh karena menu MBG yang disalurkan hari ini tidak sesuai dengan juknis. Pemerintah harus turun tangan agar program ini kembali pada tujuan utamanya, yakni meningkatkan gizi anak sekolah," tegasnya. 

Jangan jadikan program ini sebagai ladang bisnis. Jika penyaluran MBG terus dilakukan tanpa memperhatikan standar gizi, maka yang menjadi korban adalah anak-anak generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas," imbuhnya. 

Menurutnya persoalan ini bisa terjadi akibat kelalaian mitra dapur atau kurangnya pemahaman terhadap petunjuk teknis penyaluran MBG. Ia pun mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap seluruh mitra penyedia makanan di wilayah Saketi.

"Semoga temuan ini menjadi bahan evaluasi agar menu yang disalurkan benar-benar berkualitas dan sesuai prosedur pemerintah," pungkasnya.

Sementara hingga  berita ini diterbitkan, pihak SPPG Langensari Kecamatan Saketi belum bisa di hubungi terkait menu tersebut tersebut.(Red)