Menagih Marwah MBG di Pandeglang : Di Balik Aroma Busuk Daging Ayam dan Teka-Teki Dana Miliaran

Menagih Marwah MBG di Pandeglang : Di Balik Aroma Busuk Daging Ayam dan Teka-Teki Dana Miliaran
Foto : Ilustrasi

Banselpos.com Pandeglang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi oase nutrisi bagi anak-anak di Kabupaten Pandeglang kini terancam ternoda. Di balik misi besar mencetak generasi unggul, sebuah temuan memuakkan mencuat ke publik: daging ayam berbau busuk dari salah satu unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pandeglang ditemukan nyaris mendarat di piring para siswa.


Insiden ini bukan sekadar kecerobohan dapur biasa. Bagi DPC Angkatan Muda Indonesia Raya (AMIRA) Pandeglang, temuan ini adalah alarm bahaya bagi keselamatan generasi bangsa. Ketua DPC AMIRA Pandeglang, Rohikmat, tak mampu menyembunyikan kegusarannya melihat standar keamanan pangan yang seolah dipandang sebelah mata.

"Kita sedang mempertaruhkan masa depan anak-anak. Jika penyajian menu dilakukan serampangan dan menabrak SOP, program mulia ini bukan memberi gizi, malah bisa menjadi sumber penyakit," tegas Rohikmat dengan nada prihatin saat ditemui Banselpos.com di kediamannya, Minggu (10/05/2026).

Kekecewaan AMIRA kian memuncak saat membedah ketimpangan tajam antara sokongan anggaran pemerintah dengan realitas fasilitas di lapangan. Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tercatat menerima insentif investasi hingga Rp6 juta per hari dari Badan Gizi Nasional (BGN). Namun, fakta di lapangan justru bercerita lain.

Alih-alih menggunakan lantai epoxy yang steril sesuai standar HACCP, banyak dapur SPPG terpantau masih beralaskan keramik biasa sebuah media yang sangat rentan menjadi sarang bakteri. Ditambah lagi dengan absennya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang layak. Lingkungan kerja yang jauh dari kesan higienis inilah yang diduga kuat menjadi biang kerok munculnya daging busuk tersebut.

Berdasarkan kalkulasi matang, satu unit SPPG diproyeksikan mampu menyerap anggaran negara hingga Rp3,4 miliar dalam kurun dua tahun. Angka fantastis tersebut seharusnya menjadi jaminan mutlak bahwa gizi anak-anak Pandeglang dikelola secara paripurna. Namun, minimnya realisasi fasilitas fisik membuat Rohikmat melontarkan tanya besar.

“Jika wujud fisiknya tidak sebanding dengan dana miliaran itu, ke mana sebenarnya uang negara mengalir?” cecarnya. Kabut dugaan praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) pun kini mulai menyelimuti proyek ini, memicu desakan agar Aparat Penegak Hukum (APH) segera melakukan audit investigasi secara menyeluruh.

AMIRA mengingatkan bahwa program inisiasi Presiden Prabowo Subianto ini membawa misi ganda: menyehatkan anak sekaligus menghidupkan nadi ekonomi lokal. Sesuai regulasi, keterlibatan minimal 15 supplier local termasuk UMKM dan BUMDes sebagai penyedia bahan baku adalah kewajiban mutlak, bukan sekadar pelengkap administratif.

Menutup perbincangannya, Rohikmat mengajak masyarakat untuk tidak berpangku tangan. Aroma tak sedap dari daging ayam di Cigadung harus menjadi titik balik untuk memperketat pengawasan. Ia mewanti-wanti agar piring makan anak-anak jangan sampai dijadikan ajang "bancakan" oleh oknum yang hanya memburu keuntungan pribadi di atas risiko kesehatan generasi penerus bangsa. ***(Dad/Red).